Jumat, 16 September 2016

The Liar and His Lover 2013

The Liar and His Lover: Sweet Lies 

 


Title : The Liar and His Lover
Japanese Title : カノジョは嘘を愛しすぎてる Kanojo wa Uso o Aishisugiteru
Genre : Drama, Romance
Runtime : 114 Menit
Release : 14 December 2013
Rate: 7.1/10 [based on imdb]
Directed by : Norihiro Koizumi
Cast : Takeru Sato, Sakurako Ohara, Shohei Miura, Masataka Kubota, Kouki Mizuta, Koudai Asaka, Ryo Yoshizawa, Yuki Morinaga, Mitsuki Tanimura, Saki Aibu, Takahashi Sorimachi.

Kanojo wa Uso wo Aishisugiteru dirilis di Jepang pada bulan Desember 2013 dan berdurasi sekitar 2 jam.
Kanojo wa Uso o Aishisugiteiru atau yang bila diartikan secara literal menjadi “A Girl who Loved Lies” dan kemudian dibuatkan judul resmi versi baratnya menjadi “The Liar and His Lover”.
Ini merupakan adaptasi dari sebuah manga berjudul sama, karya mangaka Kotomi Aoki. Mengisahkan tentang Ogasawara Aki (Takeru Sato) mantan bassis dari band bernama Crude Play, yang beranggotakan sahabat-sahabat SMA-nya, Sakaguchi Shun (Miura Shohei), Ono Kaoru (Mizuta Kouki), dan Yazaki Teppei (Asaka Koudai).
Crude Play diorbitkan oleh produser Takagi Soichiro (Sorimachi Takashi). Namun, sebelum Crude Play resmi debut, Aki memutuskan untuk keluar dari band ini karena suatu alasan.
Posisi Aki sebagai pemain bass kemudian digantikan oleh Shinohara Shinya (Kubota Masataka). Tetapi, Aki masih tetap menulis lagu untuk Crude Play dan juga Mari (Aibu Saki), pacarnya yang seorang penyanyi terkenal.
Aki yang hidup dalam depresi saat mengetahui Mari mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan produser Takagi, secara tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA berusia 16 tahun bernama Koeda Riko (Ohara Sakurako).
Dari awal pertemuan dengan Riko, Aki sengaja menyembunyikan identitas termasuk nama dan pekerjaan aslinya.
Seiring kisah romantis mereka berjalan, Aki mengatakan pada Riko bahwa dirinya membenci musik dan juga perempuan yang suka menyanyi.
Tanpa diketahui Aki, sesungguhnya Riko adalah vocalis band sekolah bersama temen-temannya Kimijima Yuichi (Yoshizawa Ryo) dan Yamazaki Sota (Morinaga Yuki).
liar 1
Konflik akhirnya muncul ketika Aki menemukan kenyataan bahwa Riko adalah seorang penyanyi bertalenta luar biasa, dan Riko mengetahui bahwa Aki (yang memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Ogasawara Shinya) justru adalah Ogasawara Aki, seorang penulis lagu idolanya yang juga mantan bassis Crude Play.
Entah kenapa sewaktu melihat adegan duet Riko dan Aki menyanyikan salah satu lagu dari Crude Play, karakter Sakurako Ohara selintas mirip dengan Joanna Alexandara (subyektif).
Pemilihan karakter untuk memerankan Koeda Riko juga bisa dibilang tidak mudah karena harus diadakan audisi hingga 5000 peserta.
Nama Sakurako Ohara langsung dipercaya memerankan Koeda Riko setelah sang sutradara, Norihiro Koizumi memutuskan langsung setelah mendengar karakter suaranya.
Akting yang ditampilkan Sakurako pun nampak tidak seperti orang yang baru pertama kali bermain film.
Adaptasi Kanojo wa Uso wo Aishisugiteru menjadi live action ini disutradarai oleh Norihiro Koizumi yang sebelumnya pernah menggarap film Taiyô no uta.
Dari segi cerita sendiri mungkin tidak banyak yang perlu dibicarakan mengingat cerita film ini sendiri mirip dengan apa yang diceritakan dalam komiknya.
Pada bagian awal film cerita berjalan agak lambat, bahkan pertemuan antara Aki dengan Riko pun tidak langsung diakhiri dengan pernyataan ‘cinta pada pandangan pertama’ oleh Aki.
liar 4
Tetapi, mulai pertengahan hingga akhir film berjalan dengan cukup mulus. Chemistry antar dua pasangan ini pun lebih terasa ketika berbagai konflik mulai menghampiri.
Sedangkan untuk peran band Crude Play sendiri, membandingkan antara manga dengan live action mungkin karakter Shun, Kaoru dan Teppei tidak terlalu banyak berbeda, tetapi yang menjadi perhatian adalah Shinya dengan karakter suaranya yang berat bahkan melebihi karakter suara Shun.
Secara keseluruhan Norihiro Koizumi cukup berhasil membawa Kanojo wa Uso wo Aishisugiteru dari komik menjadi sebuah film yang cukup menghibur.
Setelah credit title,  jangan dulu menyelesaikan menonton film ini. Kerena ada secret scene yang menampilkan keseluruhan ending dari film ini.

Taiyou no Uta 2006

Resensi Film : Taiyou no Uta (Midnight Sun)


Disutradarai Oleh    : Norihiro Koizumi
Penulis Naskah        : Kenji Bando
Dibintangi Oleh        :

  •  Yui
  • Takashi Tsukamoto
  • Kuniko Asagi
  • Goro Kishitani
  • Sogen Tanaka
  • Airi Toyama
Lagu Oleh                   : Yui

Didistribusikan Oleh : Shochiku Co.,Ltd.

Dirilis tanggal            : 17 Juni 2006 (Jepang)
Durasi Film                : 119 min.
Bahasa                        : Jepang



OH GOODBYE DAYS ima
Kawari hajimeta mune no oku ALLRIGHT
Kakkou yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
LA LA LA LA  WITH YOU......


Sekarang, hari perpisahan
Segalanya mulai berubah, tapi sesuatu dalam hatiku baik-baik saja
(Seperti sebelumnya, hari-hari yang) terlarang tapi tetap berkesan
Saat aku bersama denganmu......*
 Itulah sepenggal lirik dari lagu “Good Bye Days” yang menjadi soundtrack film “Taiyou no Uta” atau dikenal juga dengan judul “Song of The Sun”. Lagu tersebut menceritakan tentang perasaan Kaoru Amane (Yui Yoshioka), seorang gadis berusia 16 tahun yang menderita penyakit Xeroderma Pigmentosum atau XP. XP adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya meninggal jika terkena sinar ultraviolet matahari.
Karena penyakitnya, Kaoru hanya bisa keluar di malam hari dan tidur di siang hari (udah kayak kalong aja ya...kesian bgt). Selama itu, gitar adalah satu-satunya hiburan yang bisa mencerahkan hidupnya. Ia sangat suka menyanyi dan ia selalu datang untuk bernyanyi setiap malam di depan stasiun. Selain tidur, Kaoru juga suka memperhatikan seorang cowok SMA yang selalu duduk di halte bus di seberang rumahnya, dengan papan surfing yang terikat di skuternya. Ia ingin sekali berkenalan dengannya, tapi ia tidak bisa terkena sinar matahari (iyalah, bisa mati dia).


Kaoru lagi nungguin Koji lewat depan rumahnya.....


YUI lagi menghibur diri di stasiun dengan menyanyi 

Ketika sedang menyanyi di depan stasiun seperti biasa bersama sahabatnya Misaki Matsumae (Airi Toyama), ia melihat cowok itu lalu mengejarnya sampai ke rel kereta dan secara tak sengaja mendorongnya sampai jatuh. Tanpa basa-basi lagi ia langsung berkata "Amane Kaoru desu! 16sai desu! Kareshi wa imasen!" (sumpah, ini bagian yang paling lucunya....keliatan banget Kaoru masih 'ijo' soal cinta). Cowok itu yang bernama Koji Fujishiro (Takashi Tsukamoto) cuma bisa memandang aneh pada Kaoru yang terus mengoceh sampai akhirnya Misaki datang dan menyeret Kaoru pergi.
Mengetahui bahwa temannya begitu menyukai Koji, akhirnya Misaki secara sukarela merekamkan video tentang keseharian Koji untuk Kaoru. Kaoru pun senang, ia akhirnya bisa lebih mengenal Koji. Suatu malam, mereka bertemu di halte bis di depan rumahnya. Awalnya mereka merasa canggung, tapi kemudian mereka berjanji untuk bertemu di depan stasiun saat malam hari untuk mendengar Kaoru menyanyi.
aish....lucunya^^....salting nih yee

Karena tempat dimana ia biasa menyanyi sudah ditempati orang lain, Koji mengajak Kaoru ke kota.

cieh....seneng banget mba di bonceng....(iyalah, yang boncengin'a ganteng gitu!!)


seneng banget ya.....pertama kali sih jalan ke kota

Setelah melihat-lihat, akhirnya mereka berhenti di suatu tempat dan Kaoru mulai bernyanyi. Orang-orang pun mengerumuni mereka, semuanya hanyut mendengar lagu yang Kaoru nyanyikan. Begitupula dengan Koji yang begitu terkesima.

ashekk dah mba, di sawer yohhh......


Sebelum pulang, mereka berhenti sebentar di pantai, disana Koji menembak Kaoru, Kaoru menjawab ya. Dan akhirnya mereka pun mulai berpacaran.

Koji payah banget main gitar, masa kalah sama Kaoru yang cewek??

Setelah itu, Koji baru mengetahui bahwa Kaoru mengidap penyakit XP, meski begitu ia tidak ingin melepaskan Kaoru. Hal itu meyakinkan Kaoru bahwa Koji memang tulus mencintainya. Koji juga yang berinisiatif untuk membuatkan CD debut Kaoru. Untuk mengumpulkan biaya rekaman, Koji mulai bekerja sambilan selama liburan musim panas (dimana ya bisa nemu cowok kayak gini,,,,). Di saat yang bersamaan Kaoru mulai merasakan tangannya menjadi kaku, ia sudah tidak bisa bermain gitar lagi. Tapi, karena Koji memintanya untuk merekam CD debut akhirnya Kaoru bersedia. Saat itu Kaoru berkata, “ meskipun tanganku seperti ini, kamu masih bisa mendengarkan suaraku. Karena itu, aku akan terus bernyanyi.” (Aish....Koji nangis sedih banget saat Kaoru bilang gitu).
Akhirnya waktu perekaman CD tiba. Selama sesi perekaman, Kaoru melarang ayah, ibu, Koji juga Misaki untuk melihatnya. Mereka baru bisa mendengarnya setelah dalam bentuk CD.


sepenuh hati banget Kaoru nyanyinya pas rekaman...

Tapi setelah hari itu, kondisi Kaoru makin memburuk, sehingga ia harus menggunakan kursi roda.
Di suatu pagi, dengan ditemani ayah dan ibunya, Kaoru pergi ke pantai untuk melihat Koji berselancar. Saat itu dengan mengenakan baju khususnya Kaoru berjalan ke arah bibir pantai, menuju tempat Koji yang menunggunya.


Kaoru yang kekeuh mau nyamperin Koji sekalipun harus jatuh-bangun...


Hari itu adalah saat pertama dan terakhir bagi Kaoru untuk melihat Koji berselancar. Karena beberapa hari kemudian Kaoru meninggal dunia sebelum CD-nya dirilis. Setelah CD-nya selesai dirilis, CD itu menjadi kenangan terakhir bagi Koji, Misaki, serta ayah dan ibu Kaoru dan selalu mengingatkan mereka pada Kaoru.


peti mati Kaoru penuh bunga matahari, penggambaran matahari yang udah ngebunuh dia...

Begin Again (Adam Lavine, Keira Knightley, Mark Ruffalo)



Resensi Film: Begin Again 2013 (Can a song save your life) 
Hasil gambar untuk resensi film begin again
Tidak semua film menjadikan lagu-lagu soundtrack sebagai nilai jual utama. Bahkan lagu-lagu soundtrack cuma dijadikan tempelan, tanpa arti. Sutradara dan penulis naskah John Carney mencoba mengangkat kembali pentingnya lagu soundtrack melalui film Begin Again.


Keira dan Adam Levine dalam salah satu adegan awal.
Gretta (Kiera Knightley) dan Dave Kohl (Adam Levine) pindah ke New York untuk menandatangani kesepakatan dengan perusahaan rekaman. Mereka pasangan kekasih dan penulis lagu. Namun, saat terbuai oleh ketenaran, Dave meninggalkan Gretta.

Gretta memiliki teman baik, Steve (James Corden), yang bersedia menampung di apartemennya. Bahkan Steve secara tidak langsung memberikan kesempatan bertemu Dan (Mark Ruffalo) di sebuah kafe. Steve meminta Gretta menyanyi di panggung dan Dan menyukai penampilan dan lagu Gretta.


Dan yang bekerja pada label rekaman berniat memproduseri album Gretta. Namun kinerjanya sudah diragukan oleh rekannya. Ini membuat Dan “bertindak gila” dengan merekam lagu-lagu Gretta di penjuru kota New York.

Keira dan Mark saat sedang merekam salah satu lagunya.
Ide utama film ini cukup baik. Meski terlihat seperti cerita sampingan, kisah perjuangan demi musik bagus lebih baik dibandingkan kemasan kisah percintaan Gretta-Dave. Film drama ini tidak melulu soal percintaan, tetap juga pesan moral: musik bagus tidak selalu mahal.

Sutradara John Carney mengakui membuat film mengenai perjuangan orang-orang dari nol untuk musik. Padahal, ia juga diingatkan bahwa film karya sebelumnya, Once, menjadi pertunjukan besar di Broadway. “Ini sangat aneh,” katanya seperti dikutip situs The Sidney Morning Herald.

Begin Again memiliki akar cerita yang kurang lebih sama dengan Once. Namun, keduanya merupakan film yang berbeda. Once bercerita tentang pria dan wanita dengan talenta luar biasa. Begin Again adalah kolaborasi ciamik yang menggugah.

“Tetapi, Begin Again merupakan kompromi antara musisi dan pengusaha untuk membuat sesuatu. Padahal, perubahan dan adaptasi yang dilakukan berlawanan dengan mimpi Amerika yang tidak pernah berkompromi,” kata Carney.

Selain mengarahkan film dan menulis cerita, Carney juga berperan dalam menciptakan lagu-lagu soundtrack Begin Again.

Lagu-lagu di film ini sungguh apik. Bahkan beberapa percakapan bukan berupa dialog, melainkan berupa lagu yang dinyanyikan para pemain. Lagu “No One Else Like You”, misalnya, dinyanyikan oleh Adam Levine, pentolan grup band Maroon 5 yang ikut bermain di film ini.

Dave menyetel lagu ini untuk Gretta setelah pulang dari konser di Los Angeles. Tanpa menunjukkan adegan apa pun, Gretta tahu Dave berselingkuh dari lirik lagu itu. Penyampaian emosi yang baik melalui lirik lagu cukup sulit dan dihindari beberapa film musikal. Suara Adam Levine di film ini tak diragukan lagi.

Suara Kiera Knightley juga mengejutkan. Lagu yang dinyanyikannya mampu menguatkan emosi yang disampaikan tanpa dialog. Contohnya saat menyanyikan lagu “Lost Stars”. Knightley menyanyikannya seperti penyanyi kawakan macam Adam Levine.

Dalam hal akting, Knightley dan Ruffalo menunjukkan kualitas di dunia peran. Sayang, akting Levine masih kaku. Bahkan, ia terlihat tidak nyaman saat beradegan mesra dengan Knightley. Semua termaafkan dengan penjiwaan Levine menyanyikan “Lost Stars” di akhir film. Lagu itu juga menjadi premis penutup yang ciamik untuk film ini.

Adam Levine saat menyanyikan lagu penutup.
Begin Again tak tayang di Indonesia. Bahkan, film ini ditayangkan terbatas di Amerika. Jika penasaran, rilisan DVD-nya sudah ada mulai awal Oktober lalu.

Begin Again (2014) Movie Trailer :


Tulisan ini pernah dimuat di The Geotimes Magazine edisi 25.

Resensi Film Grace Unplugged 2013

Grace Unplugged, Perjuangan Mencari Kebahagiaan di Hollywood

 Hasil gambar untuk sinopsis film grace unplugged

Rilis :
4 Oktober 2013
Genre :
Drama, Musik
Durasi :
1 jam 58 menit
Sutradara :
Brad J Silverman
Produser    :
Mark Burg, Larry Frenzel , Daniel J. Heffner, Lawrence Mestel , Anne Parducci, Russ Rice, Justin Tolley, Chris Zarpas
Pemain :
A.J Michalka sebagai Grace Trey, James Denton sebagai Johnny Trey, Shawnee Smith sebagai Michelle Trey, Kevin Pollak sebagai Mossy, Michael Welch sebagai Quentin, Kelly Thiebaud sebagai Renae Taylor

Grace Unplugged sebuah film drama berbasis agama yang mengangkat nilai-nilai Kristiani dan sangat menyentuh hati. Berkisah mengenai seorang penyanyi sekaligus penulis lagu rohani Kristen yang masih berusia 18 tahun yaitu, Grace Trey. Grace adalah seorang gadis muda berbakat dalam bermusik yang menentang ayahnya (Johnny Trey) karena keinginannya dalam bermusik pop tidak disetujui.
Grace dan Johnny memimpin ibadah setiap hari Minggu di gereja. Namun, Grace memberontak kepada sang ayah karena tidak nyaman dengan musik-musik rohani yang ia bawakan. Johnny pun tidak bahagia karena kelakuannya tersebut. Hal  inilah yang menjadi dasar perselisihan antara Grace dan Johnny. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya untuk mengejar impiannya menjadi bintang musik pop. Seiring waktu Grace mendapatkan keinginannya tersebut. Ia merasa nyaman dengan kehidupannya yang baru. Namun, masalahpun datang menghampiri diri Grace dan terjadi pergumulan batin yang sangat dalam.                
Nilai-nilai Kristiani pada film ini terlihat jelas saat terjadi permasalahan dan diperhadapkan dengan dua pilihan antara kehidupan rohani atau kehidupan duniawi. Grace Unplugged memakai gambaran kehidupan remaja yang terkadang mudah untuk terpengaruh dengan hal-hal duniawi. Seperti yang ada dalam alur cerita film tersebut. Grace lebih nyaman dan menyukai lagu-lagu bernuansa pop dibanding dengan lagu rohani yang isinya untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Grace selalu menunjukkan sikap yang jenuh dan bosan ketika ia menyanyikan lagu rohani saat Ibadah hari Minggu di gereja bersama ayahnya.
Konflik yang biasa terjadi di dalam keluarga pun juga turut serta diangkat dalam film tersebut. Film ini selanjutnya menceritakan tentang perjuangan iman Grace di dunia selebritis yang penuh dengan hal-hal yang dapat mempengaruhinya untuk semakin menjauh dari Tuhan dan keluarganya. Film yang memberikan banyak pelajaran berharga tersebut penuh dengan adegan-adegan yang dramatis. Konflik moral yang terjadi di dalam keluarga, nafsu duniawi dan masalah-masalah dalam lingkungan Grace menjadi adegan-adegan yang selalu dapat membuat hati yang menonton merasa sadar diri.
Grace Unplugged merupakan film yang bagus dan layak untuk ditonton. Khususnya bagi para remaja Kristiani. Banyak pelajaran moral yang bisa kita dapatkan melalui film tersebut. Selain itu, film tersebut juga dapat memberikan banyak inspirasi bagi yang menontonnya.
 
 Grace Unplugged 2013 trailer:
 

Across the Universe (2007) : Sinopsis / Plot cerita

Across The Universe, Hanya Cinta yang Mampu Menyembuhkan 

 Hasil gambar untuk across the universe

Akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah. Across The Universe hadir di tengah ruang keluarga, tak hanya sekedar menyuguhkan drama musikal dibalut roman percintaan, bergenre remaja yang tengah mencinta. Namun, terlihat klasik manakala disandingkan dengan sejumlah lagu-lagu The Beatles yang menguatkan jalan ceritanya.

Film ini seperti sebuah ajang reuni para Beatles Lovers dengan lagu-lagu The Beatles. Setidaknya 30-an lagu The Beatles berputar dari awal hingga pungkasan film. Lalu, apakah hanya sebuah kebetulan, seting film dibuat sekitar tahun 1960-an? kala itu perang Vietnam memang tengah berkecamuk. Tepat, saat itulah grup musik The Beatles terlahir, lalu tumbuh, besar, dan melegenda hingga sekarang.

Jude diperani Jim Sturgess, di awal film berputar, diceritakan tengah mencari ayahnya yang dianggap tak bertanggungjawab, meninggalkan ia dan ibunya yang papa, di pinggiran kota Liverpool. Jude lantas nekat meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Amerika, menjadi imigran gelap. Demi satu kata, meminta pengakuan ayahnya. Di Amerika, Jude berkenalan dengan Max (Joe Anderson). Pengisap ganja, penyuka kebebasan, yang merasa hidupnya tak berguna sementara ia tak pernah ditanya tentang perasaannya, karena ayahnya lebih suka menuntut.

Bertahan hidup di Amerika yang bebas, Jude dan Max pun berbagi apartemen dengan Sadie (Dana Fuchs), seorang hippies dan kekasihnya Jo-Jo (Martin Luther) yang memiliki grup band. Selain itu, disana tinggal pula Prudence yang melarikan diri dari rumahnya dan berkelana karena merasa kesepian, tak berguna dan jomblo.

Sementara, Jude yang semakin dekat dengan Max, semakin menaruh hati pada Lucy (Evan Rachel Wood), yang tak lain adik Max. Sampai disini, kisah cinta yang disuguhkan masih terasa biasa. Gadis muda, ceria, kaya, tertambat pada cinta seorang seniman yang tampan menawan. Namun, tak sekedar bicara cinta, mereka juga dihadapkan pada pencarian makna dan tujuan hidup mereka, menjadikan kisah cinta yang disuguhkan dalam film ini terasa lebih kuat. Bahwa, kita bisa memaknai, apapun gesekan yang memperparah sebuah hubungan hanya bisa disembuhkan oleh kehadiran cinta. Ya, All you need is love, seperti kata Beatles.

Bolehlah saya menjura untuk sang penulis skenario, Julie Taymor, Dick Clement dan Ian La Frenais yang "menggodok" skenario dengan sangat baik. Menghadirkan nama tokoh Jude, Lucy dan juga figuran Prudence yang memiliki kesesuaian dengan judul lagu-lagu The Beatles. Sebuah kesengajaan yang pintar, kalau saya bilang.

Scene by scene itu runut hadir di sepanjang film berputar, misalnya saat Max menyemangati kawan dekatnya dari jauh dan lalu menyanyikan "Hey Jude". Sementara, "Dear Prudence", melantun indah, saat Prudence dibujuk kawan-kawannya karena mengurung diri di kamar. Pun, saya menyukai adegan Jude menyanyikan "Something", saat ia tengah menikmati wajah kekasihnya, Lucy, yang tertidur dan melukisnya di selembar kanvas. Dan "Lucy In The Sky with Diamonds" akhirnya menjadi penutup yang menggemaskan.

Across The Universe yang dibesut di tahun 2007 tersebut dihadirkan dengan gambar-gambar yang disajikan sangat imajinatif, dan bagi kamu yang tidak menyukai dunia khayalan, hal ini mungkin membosankan. Simbol-simbol bertebaran sebagai perwakilan dari ide-ide yang ingin disampaikan sang sutradara, Julie Taymor. Visualisasi proses wajib militer yang keren sangat, misalnya.

Pun, Julie Taymor menggambarkan dengan begitu apik, situasi berdarah, dan karut marut di medan peperangan melalui sepotong strawberry merah, yang segar dan begitu menggoda. Semakin asik dinikmati lewat lantunan vokal Jude yang menyanyikan "Strawberry Fields Forever". Jim Sturgess dan Evan Rachel Wood pun boleh pede bernyanyi berkat tangan dingin Elliot Goldenthal, yang mengaransemen ulang lagu-lagu The Beatles sehingga semakin enak dinikmati. Sementara, tak kalah juga penampilan dari Joe Anderson, Martin Luther dan TV Carpio yang mengesankan.

Hmm, sejatinya memang inilah film yang didekasikan bagi para The Beatles Lover di sepanjang alam semesta (Across The Universe)